Kamis, 20 Mei 2010 di 20.58 Diposting oleh sacc 0 Comments

Insiden Honnoji (本能寺の変, Honnōji-no-hen) adalah sebuah insiden berdarah di mana Oda Nobunaga, daimyo Owari, yang dikenal sebagai peletak dasar persatuan Jepang pada Zaman Sengoku, dikudeta oleh bawahan kepercayaanya, yaitu Akechi Mitsuhide. Di tengah bangunan yang dilalap api Nobunaga melakukan seppuku. Peristiwa itu terjadi pada 21 Juni 1582 di Honnoji, sebuah kuil di Kyoto, tempat Nobunaga bermalam dalam perjalanannya ke wilayah barat untuk bergabung dengan ekspedisi militer penaklukan klan Mori. Kematian Nobunaga mengakhiri dominasi klan Oda dan bangkitnya klan Toyotomi yang berhasil mengkonsolidasi kekuatan setelah mengalahkan Mitsuhide.

Latar belakang

Tahun 1582, Oda Nobunaga sedang di puncak kejayaannya setelah pada awal tahun itu berhasil menghancurkan klan Takeda dalam Pertempuran Temmokuzan. Hanya tinggal beberapa langkah lagi ia berhasil mempersatukan Jepang tengah. Pesaing kuat yang tersisa hanya tinggal klan Uesugi, Mori, dan Hojo yang ketiganya sedang mengalami kemunduran. Klan Uesugi sedang dilanda pertikaian internal pasca kematian Uesugi Kenshin yang melibatkan putra-putra angkat dan keponakannya. Klan Mori sepeninggal Mori Motonari, dipimpin oleh cucunya, Mori Terumoto, yang banyak bergantung pada kedua pamannya, Kikkawa Motoharu dan Kobayakawa Takakage. Pemimpin klan Hojo, Hojo Ujiyasu juga telah meninggal dan diteruskan oleh putranya yang tidak semampu dirinya, Hojo Ujimasa.

Saat itulah Nobunaga mengirim jenderal-jenderal terbaiknya ke berbagai penjuru negeri untuk melanjutkan ekspansi militernya. Ia memerintahkan Hashiba Hideyoshi (belakangan mengganti marganya menjadi Toyotomi) untuk menyerbu klan Mori; Niwa Nagahide untuk mempersiapkan invasi atas Shikoku; Takigawa Kazumasu untuk mengawasi klan Hojo dan mempersiapkan diri menyerbu Provinsi Kozuke dan Shinano; dan Shibata Katsuie menginvasi Echigo yang dikuasai klan Uesugi.

Pada saat yang sama Nobunaga juga mengundang sekutunya, Tokugawa Ieyasu, daimyo Mikawa, untuk berkeliling wilayah Kansai merayakan kemenangan mereka atas keberhasilan mengalahkan Takeda. Ketika itu Nobunaga menerima permintaan bantuan dari Hideyoshi yang sedang mengalami kebuntuan dalam Pengepungan Benteng Takamatsu yang dipertahankan dengan gigih oleh Shimizu Muneharu dari klan Mori. Nobunaga pun berpisah dengan Ieyasu dan bersiap-siap untuk bertolak ke wilayah barat membantu Hideyoshi. Ia memerintahkan Akechi Mitsuhide untuk terlebih dulu berangkat ke sana sementara ia sendiri singgah dulu di Kyoto dan bermalam di Honnoji, tempat biasa ia menginap bila berkunjung ke kota itu. Saat itu ia hanya didampingi oleh beberapa pejabatnya, pedagang, seniman, dan beberapa lusin pembantunya.

Pengkhianatan Akechi

Begitu menerima perintah, Akechi Mitsuhide kembali ke markas besarnya, Istana Sakamoto di Provinsi Tamba. Ia lalu mengadakan pertemuan di Renga dengan beberapa penyair terkemuka dan memperjelas tujuannya untuk memberontak. Mitsuhide merasa inilah saat yang tepat untuk bertindak karena Nobunaga sedang dalam keadaan tidak siap di Honnoji dan sebagian besar daimyo dan jenderal klan Oda sedang sibuk berperang di berbagai daerah.

Kemudian, Mitsuhide memimpin pasukannya ke Kyoto dengan alasan Nobunaga ingin menyaksikan parade militer. Tidak ada yang curiga sepanjang jalan yang dilalui pasukan Mitsuhide karena bukan pertama kalinya Nobunaga melakukan parade militer untuk memamerkan kekuatan pasukannya yang terlatih baik dan diperlengkapi senjata api, selain itu Mitsuhide pun dikenal sebagai salah satu bawahan yang paling dipercaya olehnya. Akhirnya ketika tiba di dekat Honnoji, Mitsuhide berseru pada pasukannya, “Musuh berada di Honnoji!”

Sebelum fajar menyingsing, pasukan Mitsuhide telah mengepung rapat-rapat kuil itu. Panah-panah api ditembakkan sehingga api menjalar membakar bangunan itu. Nobunaga dan para pengawalnya melawan dengan gigih namun karena dalam keadaan tidak siap dan kalah jumlah mereka bukan tandingan para pemberontak itu. Dalam kuil yang terbakar itu Nobunaga yang telah terluka parah melakukan seppuku, pengawalnya yang setia, Mori Ranmaru, juga turut gugur ketika membela atasannya. Setelah menghancurkan Honnoji, Mitsuhide menyerang Istana Nijo yang terletak tidak jauh dari situ, di mana Oda Nobutada, putra sulung dan calon penerus Nobunaga, bermalam. Nobutada pun mengikuti jejak ayahnya melakukan seppuku di istana yang telah terkepung itu.

Mitsuhide berusaha membujuk para bawahan klan Oda di daerah sekitarnya untuk mengakui kepemimpinannya. Sasaran Mitsuhide berikutnya adalah Istana Azuchi milik Nobunaga, namun sebelum ia sempat menguasainya, istana itu telah terbakar dan dijarah, hingga kini siapa yang membakar istana itu belum diketahui dengan pasti. Ia juga mengirim surat ke istana kekaisaran untuk memperkuat posisinya dan meminta pengakuan dari kaisar. Namun spekulasi Mitsuhide bahwa para bawahan klan Oda akan mengakuinya setelah kudeta, gagal total, bahkan sahabatnya seperti Takayama Ukon dan besannya, Hosokawa Fujitaka pun menolak bergabung dan mengakuinya sebagai pemimpin yang sah.

0 Responses so far.

Posting Komentar

    Entri Populer

    Followers